Blog Tijaroh.com

Saya ingin membahas mengenai sebuah pertanyaan yang simple, namun dapat menandakan tingkat kemakmuran negara kita. “Apa bedanya sarjana Indonesia dengan sarjana Singapore?” jawabnya adalah, “Sarjana Indonesia, begitu lulus kuliah bertanya, ‘saya mau kerja apa ya?’ Tapi, kalau sarjana Singapore, begitu lulus kuliah bertanya, ‘saya mau bisnis apa ya?’ ”
Membaca kembali buku Wink and Grow Rich tulisan Roger Hamilton (sudah ada terjemahnya) menyegarkan kembali ingatan akan prinsip-prinsip investasi. Buku ini menarik karena ditulis dalam bentuk cerita, seperti halnya buku klasik Who Moved My Cheese. Saya ingin investasi, tapi, saya nggak punya uang. Gimana ya? Begitulah pertanyaan kebanyakan orang.
Menjadi investor? Bukankah cita-cita yang umum adalah menjadi dokter, menjadi pilot, menjadi insinyur, atau menjadi artis? Ya, itulah cita-citanya orang yang tidak kaya (atau yang orang tuanya tidak punya ilmu menjadi kaya). Ini tidak bermaksud menghina, ini hanya sekedar menunjukkan perbedaan orang yang kaya dengan yang tidak kaya (kelas
Dulu waktu saya masih kecil, yang disebut orang kaya adalah mereka yang mempunyai uang jutaan. Karena itu ada sebutan ‘jutawan’. Sekarang gaji di atas sejuta sudah umum, bahkan sudah dirasakan kurang memadai. Sekarang orang kaya adalah mereka yang mempunyai uang milyaran, atau disebut milyuner. Apakah nanti milyuner tak lagi
Milyuner di Antara Kita ” Mana milyunernya? Mereka semua tidak ada yang terlihat seperti milyuner!” demikian komentar seorang vice president lembaga keuangan menanggapi sekelompok orang yang menjadi subyek penelitian tentang para milyuner. Betul, mereka memang tampak seperti orang biasa, berbaju biasa, memakan makanan biasa, bersikap seperti orang biasa. Sama
Malu rasanya sering mengutip kiat sukses dari orang barat. Maka yang ini kiat dari Rasulullah. Dijamin lebih mustajab. Saya kutip dari situs Renungan Islam. HADIS MUTHAHHARAH Dari Sayyidina Khalid bin Al-Walid Radiallahu’anhu telah berkata : Telah datang seorang arab desa kepada Rasulullah S.A.W yang mana dia menyatakan tujuannya :
“Hai orang-orang yg beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah ) sebagian dari hasil usahamu yg baik-baik dan sebagian dari apa yg kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yg buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan
Iftitah Permasalahan zakat sudah banyak disinggung dalam buku dan kitab fiqh Islam. Urgensi dan keutamaannya-pun sudah banyak diketahui kaum muslimin. Sangat disayangkan sosialisasi pada tataran teknis banyak umat islam yang belum mengetahui secara rinci bagaimana pola Rasulullah SAW dan para shahabatnya menangani perzakatan ini. Ironisnya lagi, tidak sedikit kaum

